Untuk
menghindari pengejaran polisi, Cowok A memaksa Furuta untuk menelepon
orangtuanya dan menyuruhnya mengatakan kalau dia kabur dari rumah dengan
teman-temannya, dan tidak berada dalam bahaya. Bahkan cowok A membuat
Furuta berpose sebagai pacar dari salah satu cowok–cowok itu ketika
orangtua C, pemilik rumah sedang ada dirumah tersebut. Kalau mereka
sudah yakin orang tua C tidak akan telepon polisi, mereka pun menyudahi
sandiwara tersebut. Furuta mencoba kabur berkali–kali, memohon pada
orang tua C untuk menyelamatkan dia, tapi mereka tidak melakukan apa-apa
meskipun mereka tau kalau selama ini Furuta disiksa, karena mereka
takut kalau Cowok A akan menyiksa mereka. Cowok A saat itu adalah
pemimpin Yakuza kelas rendah dan telah mengencam siapapun yang ikut
campur akan dibunuh.
Menurut
kesaksian para cowok itu dipersidangan, mereka berempat memperkosa
Furuta, memukulinya, memasukan macam-macam ke dalam vaginanya termasuk
tongkat besi, membuatnya minum urinnya sendiri dan makan kecoak,
memasukan petasan ke dalam anusnya dan meledakanya, memaksa Furuta untuk
masturbasi, memotong pentilnya dengan tang, menjatuhkan barbell ke
perutnya, dan membakarnya dengan rokok dan korek api (salah satu dari
pembakaran itu adalah hukuman karena dia berusaha menelepon polisi).
Pada sebuah titik luka Furuta sangat parah hingga menurut salah satu
cowok itu, Furuta membutuhkan waktu satu jam lebih untuk merangkak turun
tangga untuk menggunakan kamar mandi. Mereka bahkan mengatakan
kemungkinan kalau 100 orang tau kalau mereka menahan Furuta di rumah
tersebut, tapi hal ini tidak jelas artinya apa 100 orang itu hanya tau
atau mereka ikut memperkosa dan menyiksa juga saat berkunjung ke rumah
tersebut. Cowok-cowok itu menolak membiarkan Furuta pergi, walau Furuta
seringkali memohon pada mereka untuk membunuhnya saja dan menyudahi
penderitaan tersebut.
Pada
tanggal 4 Januari 1989, dengan menggunakan alasan kekalahan salah
seorang cowok itu main mahyong, keempat cowok itu memukuli Furuta dengan
barbell besi, menuang cairan korek api ke kakinya, tangannya, perutnya,
dan mukanya, dan lalu membakarnya. Dia meninggal tak lama kemudian hari
itu karena shock. Kempat cowok itu menyatakan kalau mereka tidak
menyadari betapa parah luka yang dialami Furuta, dan mereka percaya
kalau Furuta hanya berpura-pura mati.
Para
pembunuh itu menyembunyikan mayatnya di drum 55 galon dan memenuhinya
dengan semen. Mereka membuang drum tersebut di kota Tokyo.
Penahanan dan Hukuman
Para
cowok itu ditangkap dan disidangkan sebagai orang dewasa, tapi karena
Jepang menangani kejahatan yag dilakukan oleh yang masih dibawah umur,
identitas mereka disembunyikan oleh persidangan. Tapi bagaimanapun juga,
seminggu kemudian, majalah mingguan bernama Shukan Bunshun menerbitkan
nama mereka, dengan menyatakan “hak asasi tidak dibutuhkan oleh penjahat
biadab.” Mereka juga menerbitkan Nama asli Furuta dan detail tentang
kehidupan pribadinya dan menerbitkanya dengan sangat nafsu di media.
Kamisaku dituntut sebagai pemimpin para cowok itu, (entah benar atau
tidaknya) menurut persidangan.
Keempat
cowok itu diberi keringanan dengan dinyatakannya bersalah dengan
tuntutan “membuat luka fisik yang menyebabkan kematian”, dibandingkan
tuntutan pembunuhan. Orang tua cowok A menjual rumah mereka dengan harga
maksimum 50 juta yen atau 5 miliar rupiah dan membayarnya sebagai
kompensasi untuk keluarga Furuta.
Untuk
partisipasinya di kejahatan ini, Kamisaku harus menjalani 8 tahun di
penjara anak-anak sebelum dia dibebaskan di bulan agustus 1999. di bulan
juli 2004, Kamisaku ditangkap karena mencelakai seorang kenalan, yang
dia pikir membuat pacarnya menjauhi dia, dan dengan bangga membanggakan
tentang keluarganya sebelum mencelakai kenalannya itu. Kamisaku dihukum 7
tahun dengan tuntutan memukuli. *Memukuli 7 tahun penjara, menyiksa
Furuta sampe mati dipenjara 8 tahun? Mati aje loo*
Orangtua
Junko Furuta terkejut dengan kalimat yang diterima dari pembunuh anak
perempuannya, dan bergabung dengan grup masyarakat melawan orangtua
Cowok C yang rumahnya dijadikan tempat penyekapan. Ketika beberapa
masalah ditimbulkan dari bukti (semen dan rambut yang didapat dari tubuh
itu tidak cocok dengan para cowok-cowok yang ditangkap), pengacara yang
menangani lembaga masyarakat memutuskan untuk tidak membantu mereka
lagi karena merasa tidak ada bukti berarti tidak ada kasus atau dakwaan.
Ada spekulasi bahwa bukti yang mereka dapat itu didapat dari orang
tidak teridentifikasi yang memperkosa atau ikut memukuli Furuta.
Satu
dari yang paling menggangu dari kisah nyata ini adalah bahwa para
pembunuh Furuta sekarang bebas. Setelah membuat Junko Furuta melalui
berbagai penderitaan, mereka adalah cowok bebas sekarang.
Semua
hal menakutkan setengah mati ini dilakukan pada Junko Furuta dan
dikumpulkan melalui sidang di Jepang dan blogs dari 1989. Mereka
menunjukan kalau sakit yang dialami Junko Furuta dialami bertubi-tubi
sebelum akhirnya dia meninggal. Semua ini terjadi dengannya sewaktu dia
masih hidup, memang sangat mengganggu tapi inilah kenyataanya.
Temen" jgn smpe ad yg ngalamin kejadian kaya gini lg nih... Amit" de ya d jauhin bahaya kaya gni...T____T.............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar